Aku tahu kamu tak pernah sibuk. Aku tahu kamu
selalu mendengar isi hatiku meskipun kamu tak segera pukpuk di bahuku. Aku tak
perlu curiga padaMu, soal kamu mendengar doaku atau tidak. Aku percaya
telingaMu selalu tersedia untuk siapapun yang percaya padaMu. Aku yakin
pelukanMu selalu terbuka bagi siapapun yang lelah pada dunia yang membuatnya
menggigil. Aku mengerti tanganMu selalu siap menyatukan kembali
kepingang-kepingan hati yang patah.
Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum
ingin ganti topik. Tentang dia. Wanita Manis, seseorang yang selalu
kuperbincangkan sangat lama bersamaMu. Seseorang yang selalu kusebut dalam
frasa kata ketika aku bercakap panjang denganMu.
Aku sudah tau perpisahan yang Kau ciptakan
adalah sesuatu yang terbaik untukku. Aku mengerti kalu kamu sudah mempersiapkan
seseorang yang jauh lebih darinya. Tapi bukan berarti aku harus absen menyebut
namanya dalam doaku bukan ?
Permintaan yang sama seperti kemarin, Tuhan.
Jagalah kebahagiannya untukku. Bahagiakan dia untukku. Senyumnya dalah
segalanya yang kuharapkan. Bahkan, aku rela menangis untuknya agar ada
lengkungan senyum di bibirnya. Aku ingin lakukan apapun untuknya, tanpa
melupakan rasa cintaku padaMu. Aku memang tak menyentuhnya. Tapi.... dalam
jarak sejauh ini, aku bisa terus memeluknya dalam doa.
Pernah berpikir agar aku terkena amnesia dan
melupakan segala sakit yang pernah kurasa. Rasanya hidup tak akan terlalu rumit
jika setiap orang mudah melupakan rasa sakit dan hanya mengingat rasa bahagia.
Namun.... aku tahu hidup tak bisa seperti itu, Tuhan. Harus ada rasa sakit agar
kita tahu rasa bahagia. Tapi, bagiku rasa sakit yang terlalu sering bisa
membuat seseorang menikmati yang telah terjadi. Itu dalam persepsiku, Tuhan.
Kalau pendapatMu berbeda juga tak apa-apa.
Kembali pada bagian awal. Aku hanya ingin dia
bahagia. Cukup !!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar