Teste :
Kopi
Tiam Ong merupakan kedai kopi dengan ciri khas kopi yang nikmat dengan suasana
zaman dulu. Bukan hanya konsep jadul saja yang bisa membuat orang betah
berlama-lama, tetapi juga karena didukung oleh beragam jenis minuman kopi dan
makanan yang menghangatkan suasana.
Beberapa
kopi khas yang disajikan kedai kopi ini diantaranya Kopi Ong yang ditempat lain
dikenal dengan sebutan Black
Coffee, Kopi soesoe tjap nona, kopi berempah, kopi terbalik, dan
sebagainya.
Kebetulan
sewaktu penulis mengunjungi kedai kopi ini, mereka sedang menyajikan kopi Aceh.
Salah satu kopi unik khas kedai kopi ini adalah kopi terbalik dimana kopi ini
memiliki cara penyajian terbalik yang cukup unik, disajikan secara terbalik
dengan kopi dimasukkan ke dalam gelas dan diletakkan secara terbalik diatas
piring, kemudian diminum melalui pinggiran piring sedikit demi sedikit,
sehingga aroma kopi benar-benar terjaga keharumannya serta kehangatan kopinya
masih tetap terasa. Konon, menurut cerita dari teman - teman, jenis minuman
kopi ini adalah yang paling sering didapati di daerah Aceh.
Kopi
berempah juga tidak kalah nikmat, terasa sekali keharuman rempah-rempah yang
dicampurkan ke dalam kopi seperti cengkeh dan kayu manis, bahkan pengaduk yang
digunakan merupakan potongan kayu manis, sehingga rasa manis yang terdapat
dalam kopi ini merupakan rasa manis alamiah. Demikian juga kopi bandrek yang
merupakan campuran kopi, susu dan air jahe dengan pengaduk kayu manis
memberikan rasa unik berupa campuran rasa pahit, manis dan wangi yang menyatu
dan terasa dalam mulut.
Untuk
kelas makanan, kedai makan ini menyediakan beberapa menu rumahan seperti nasi
goreng belatjan ong, nasi tim ayam jamur, nasi ayam nyonya ong, dan
sebagainya.
Kedai
ini juga menyediakan beberapa makanan ringan untuk dinikmati bersama dengan
kopi khas kopi tiam ong seperti Loempia Tap Kejoe Tjoklat, Pao Kacang Merah,
oebi goreng dan lain sebagainya.
Loempia
Tap Kejoe Tjoklat tampak seperti lumpia pada umumnya yang diberi sedikit coklat
cair di bagian atas sebagai hiasan, namun ketika digigit sepotong, terasa
sekali rasa berikut tape di dalam lumpia, uniknya tape ini terasa seperti ubi
juga pisang, lengkap dengan wangi keju membuat menu ini terasa unik untuk
dinikmati. Oebi goreng juga tidak kalah unik, bentuknya yang dipotong
kecil-kecil (berbentuk seperti potongan french fries) membuatnya disangka
sebagai kentang goreng pada awalnya, namun ternyata merupakan ubi jalar yang
digoreng, ubi ini cocok sebagai cemilan untuk menemani kopi. Mungkin cemilan
yang agak berat adalah pau kacang merah, yang mana pau dalam bahasa mandarin
berarti roti. Pau ini boleh diminta untuk diisi dengan bahan lain jika
diinginkan, tetapi isi kacang merah sangat disarankan oleh penulis, selain
kelezatan kacang merah, citarasanya sangat didukung oleh kelembutan pau ini,
sehingga tetap terasa enak, bahkan bisa mengenyangkan.
Kedai
kopi ini memiliki pelayanan yang luar biasa bagus, tampak keramahan para
pelayan terhadap setiap tamu yang datang, seperti menawarkan menu-menu favorit
kedai kopi ini, mengajarkan gimana caranya menikmati "kopi terbalik"
khas kedai kopi ini, dan sebagainya.
Kedai
kopi ini memiliki filosofi yang dipajang di bagian dalam kedai sehingga bisa
dilihat oleh siapapun yang berkunjung kemari. Filosofi tersebut
berbunyi:"Minum cangkir pertama sebagai orang asing, minum cangkir kedua
bagaikan teman, minum cangkir ketiga menjadi saudara". Filosofi ini
dipraktekkan dalam melayani tamu, sehingga jelaslah mengapa kedai kopi ini
memiliki pelayan yang melayani para tamu dengan sangat ramah, ramah bagaikan
"saudara" sendiri.
Price :
Harga
menu makanan di kedai kopi ini masih boleh dikategorikan cukup murah dimana
setiap menu dibandrol dengan harga kisaran Rp 10.000,- hingga Rp 20.000,-,
harga tersebut cukup bersahabat dengan dompet dan celana kita bukan?
Spot :
Memang
dari luar kedai kopi ini terlihat sangat sederhana, namun kedai kopi ini
memiliki keunikan tersendiri karena dilengkapi dengan beberapa hal yang bakal
menyedot pengunjungnya ke masa lalu.
Kedai
kopi ini memiliki barisan meja makan yang terbuat dari batu marmer dan kursi
yang terbuat dari kayu yang didesain dengan model zaman dulu membuat
seolah-olah pengunjung berada di awal era abad 20.
Memang,
khas kedai kopi ini adalah kopi, namun salah satu keunikannya adalah kedai kopi
ini menmberikan kopi dan kenangan masa lampau masih tersimpan dalam ornamen-ornamen
antik yang dipajang di kanan dan kiri ruang makan kedai kopi ini seperti
telepon tua peninggalan zaman Deli spoor Weigh Maatschappij, sempoa zaman dulu,
terompet renta, setrika arang, radio transistor tua, gramophone, mesin jahit
dan sebagainya. Kenangan masa silam juga terpancar dari lampu ruangan yang
ditutupi sangkar burung dan selembar kain merah serta musik dan lagu zaman
dulu.
Untuk
mengisi waktu luang, di sudut ruangan terdapat rak buku berisi buku dan majalah
untuk para pengunjung, mulai dari majalah keluarga, majalah wanita, majalah
remaja dan sebagainya.
Asal
mula kedai kopi ini sejak tahun 1968 yaitu sejak zaman kakek pemilik kedai kopi
ini, salimin Djohan Wang. kakek Bapak Djohan yang bernama Ong Cin Kie ini telah
merintis usaha ini sejak 1968 di kediaman mereka di Delitua yang memang cukup
tersohor kala itu diantara penduduk setempat karena kopi buatan kakek Ong
kabarnya memang sangat nikmat.
Kopi
Tiam Ong berarti kedai kopi yang dibuka oleh warga Chinese bermarga Ong. Kata
kopi tiam berasal dari dialek Hokkian yang dibaca ka Pe Tiam yang akhirnya oleh
para peranakan Tionghoa dimasa lampau disebut Kopi tiam. Memberi nama kedai
kopi maupun teh dengan nama Marga merupakan kebiasaan etnis Tionghoa yang
dibawa dari tanah leluhurnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar