SETIAP kali kita menyambut Idul Fitri, selalu diliputi dua perasaan. Di satu sisi kita merasa bersedih karena harus berpisah dengan bulan yang sangat istimewa yaitu bulan Ramadhan, bulan dimana Allah Swt memberikan banyak bonus pahala yang berlipat ganda dan dibukakannya lebar-lebar pintu ampunan dan surga bagi para hamba-Nya yang melaksanakan ibadah puasa.
Pada sisi lain, kita juga berbahagia, karena Idul Fitri yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Idul Fitri bagi umat Islam diyakini sebagai hari kemenangan, hari kembali ke kesucian. Kemenangan dan kesucian kita peroleh setelah sebulan lamanya kita bergulat mengendalikan hawa nafsu. Idul Fitri juga bisa digambarkan sebagai hari kelulusan seseorang dari sekolah Ramadhan.
Setiap orang yang telah lulus dalam menempuh suatu ujian pasti timbul rasa bangga, bahagia dan yakin akan menerima ganjaran yang setimpal yaitu keampunan dari Allah Swt, sehingga kita bisa menggapai predikat muttaqun. Dengan keyakinan itulah kita merayakan Idul Fitri dengan cara mengagungkan asma Allah, takbir dan tahmid sepanjang hari dan malam.
Terlepas dari perasaan yang kita alami, Idul Fitri dapat disebut sebagai kembalinya manusia dalam keadaan suci sebagaimana mereka baru dilahirkan, setelah jiwa dan fisik mereka ditempa selama bulan Ramadhan. Maka yang paling penting bagi kita adalah memancarkan jiwa yag suci dan memetik hikmah Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.
Menempa diri
Ramadhan sebagai bulan suci yang penuh rahmah dan maghfirah akan segera berlalu. Sebulan penuh kita menempa diri dengan berbagai latihan jasmani dan rohani. Berhasil tidaknya latihan tersebut akan terlihat dalam sikap hidup kita setelah keluar dari Ramadhan. Sebenarnya Ramadhan adalah awal pertarungan kita untuk 11 bulan yang akan datang. Wujud keberhasilan Ramadhan itu akan terpancar dalam beberapa hal berikut, antara lain:
Ramadhan sebagai bulan suci yang penuh rahmah dan maghfirah akan segera berlalu. Sebulan penuh kita menempa diri dengan berbagai latihan jasmani dan rohani. Berhasil tidaknya latihan tersebut akan terlihat dalam sikap hidup kita setelah keluar dari Ramadhan. Sebenarnya Ramadhan adalah awal pertarungan kita untuk 11 bulan yang akan datang. Wujud keberhasilan Ramadhan itu akan terpancar dalam beberapa hal berikut, antara lain:
Pertama, pengendalian hawa nafsu. Selama puasa Ramadhan, kita telah dididik mengendalikan hawa nafsu. Kalau di siang hari kita mampu mengendalikan hawa nafsu, maka di malam haripun juga harus demikian. Etika berbuka juga mengajarkan, apabila magrib tiba segera berbuka, cukup dengan seteguk air dan tiga buah kurma atau sepotong roti, lalu shalat Magrib. Setelah itu barulah kita makan, dengan demikian akan terjaga waktu shalat kita dan kita bisa melaksanakan amalan baik lainnya. Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga perilaku nafsunya sesuai dengan tuntunan ajaran yang aku bawa.” (HR. Thabrani)
Kedua, hidup sederhana. Sebagai orang yang menjalankan ibadah puasa, ketika berpuasa, terutama sekitar jam 14.00-15.00 siang hari, di saat perut terasa lapar, terbayang dalam benak kita untuk ingin makan apa saja, tak jarang diantara kita menumpuk makanan buat persediaan berbuka. Tetapi saat berbuka puasa tiba, ternyata dengan seteguk air dan sepotong roti saja, perut rasanya sudah kenyang. Dalam istilah lain, ibadah puasa itu mengantarkan pelakunya jauh dari sikap tamak dan serakah.
Orang tamak tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Nabi saw bersabda: “Andaikata seorang anak Adam telah memiliki harta benda sebanyak satu lembah, pasti ia akan berusaha untuk memiliki dua lembah. Dan andaikata ia telah memilliki dua lembah, pasti ia akan berusaha lagi untuk memiliki tiga lembah. Memang tidak ada sesuatu yang dapat memenuhi keinginan anak Adam melainkan tanah atau kubur yakni tempat mati dan Allah akan memberi atau menerima taubat bagi mereka yang bertaubat.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Turmizi).
Islam tidak melarang umatnya memiliki kekayaan, yang tidak boleh adalah sebaliknya, dimana kita sedemikian rupa dikuasai oleh kekayaan, karena kekayaan bisa mendorong untuk melakukan apa saja, bahkan sekehendak hatinya. Apabila orientasi kita hanya tertuju kepada kekayaan, maka kita tidak akan pernah merasa cukup dalam hidup dan kehidupan kita dan cenderung kepada serakah, seperti meminum air laut, makin banyak kita meminumnya maka semakin kita merasa haus. Dengan puasa kita dilatih untuk memilih dan memilah mana dorongan nafsu dan mana yang merupakan kebutuhan.
Ketiga, kepekaan sosial. Satu wujud keberhasilan latihan Ramadhan yang ketiga adalah kita mempunyai kepekaan sosial. Ketika puasa kita telah merasakan bagaimana tidak enaknya lapar dan dahaga, bagaimana pedihnya penderitaan orang-orang fakir miskin yang berteman dengan dahaga dan lapar, bagaimana risihnya menjadi komunitas adh‘aful dhu‘afa yang tidak pernah terpenuhi kebutuhan pokoknya?
Maka sebagai wujud pertanda kecintaan dan kepedulian kita kepada mereka, kita telah mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurna ibadah puasa yang telah kita laksanakan, sehingga dapat diterima Allah Swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Puasa bulan Ramdhan tergantung antara langit dan bumi, dan tidak akan dilangsungkan ke hadhirat Allah Swt kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah.” Sekalipun hadis ini disebut-sebut sebagai hadis dha`if, tetapi sangat tepat untuk fazailul `amal.
Kecintaan terhadap sesama inilah akan melahirkan kepekaan sosial. Apabila ini tercipta dalam kehidupan dimana yang kaya membantu yang miskin, yang kuat membantu yang lemah, maka akan tercipta ketenangan dan keberkahan hidup. Sada Rasulullah saw: “Sayangilah orang-orang yang ada di bumi supaya yang di langit (Allah) menyayangimu.” (HR. Thabrani)
Keempat, disiplin. Sebenarnya setiap ibadah dalam Islam mengandung nilai pendidikan disiplin. Bahkan disiplin merupakan syarat sahnya suatu ibadah. Kata disiplin di dalam agama disebut al-tartib, yang berarti menaati peraturan. Sebagai contoh adalah shalat merupakan suatu ibadah yang dimulai dengan berdiri, niat, takbir, membaca fatihah, dan seterusnya sampai kepada salam. Ketentuan ini harus dilakukan sesuai dengan urutan (al-tartib), tidak boleh dibolak-balik.
Demikian juga ibadah-ibadah lainnya yang telah ditentukan syarat dan rukunnya secara teratur. Puasa juga melatih disiplin, makan dan minum tidak kita lakukan di siang hari, meskipun barangkali ada kesempatan untuk melakukannya, tidak ada orang yang melihat kita. Orang yang berpuasa senantiasa mempunyai self control. Meskipun orang tidak tahu, tetapi Allah Maha Tahu segala apa yang kita lakukan atau bahkan kita rencanakan.
Dengan demikian disiplin bukan hanya milik militer saja, 14 abad yang lalu, Islam telah mengajarkannya melalui amalan ibadah yang dilaksanakan oleh umatnya. Maka dengan latihan Ramadhan ini, mari kita tingkatkan kedisiplinan kita dalam segala aspek kehidupan, baik disiplin waktu maupun disiplin dalam rangka menaati segala perintah Allah, Rasul dan para pemimpin kita.
Menghargai waktu
Islam sangat menghargai waktu, bahkan dalam Surah al-‘Ashr Allah bersumpah wal ‘ashr (demi waktu, demi masa). Khalifah Ali Karramahullahu Wajha mengatakan, waktu itu laksana pedang. Barang siapa yang tidak dapat memanfaatkannya, maka ia akan terpenggal sendiri. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, maka harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dari detik ke detik, karena waktu tidak pernah berhenti sepersekian detik pun, apalagi kembali.
Islam sangat menghargai waktu, bahkan dalam Surah al-‘Ashr Allah bersumpah wal ‘ashr (demi waktu, demi masa). Khalifah Ali Karramahullahu Wajha mengatakan, waktu itu laksana pedang. Barang siapa yang tidak dapat memanfaatkannya, maka ia akan terpenggal sendiri. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, maka harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dari detik ke detik, karena waktu tidak pernah berhenti sepersekian detik pun, apalagi kembali.
Waktu tidak pernah toleransi sedikit pun kepada manusia yang menyia-nyiakannya. Ia tetap berlalu menuju porosnya, meninggalkan orang-orang yang lalai, malas dan lupa. Menyianyiakan waktu adalah suatu kerugian yang besar. Sebagai seorang muslim, kita harus mampu memanfaatkannya dengan aktivitas-aktivitas prestatif, berkarya dan beramal saleh, berkreasi menciptakan sesuatu yang bermanfaat selagi waktu masih memungkinkan.
Mari terus kita memaknai Idul Fitri dan menggali hikmah Ramadhan lainnya, mari kita aplikasikan nilai Ramadhan dalam kehidupan keseharian, agar kita menjadi pribadi yang tangguh, mempunyai suatu ketahanan yang tentu saja akan menambah kekuatan kepribadian kita dan juga ketahanan Nasional Bangsa dan Negara kita. Selamat Idul Fitri 1435 Hijriah, dengan jiwa yang baru dan semangat yang fitri mohon maaf lahir dan batin, minal ‘aizin wal-faizin
sumber : aceh.tribunnews.com/2014/07/26/memaknai-idul-fitri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar