bolak balik

SEMUA ORANG PASTI MENDAPAT COBAAN, JALANI DENGAN BERSYUKUR

Sabtu, 19 Juli 2014

Ramadhan Momentum Membantu Palestina

(Belajar dari Kedermawanan Rasulullah)
 
RASULULLAH adalah manusia yang unggul dari segala sektor, keagamaan, sosial dan perpolitikan. Michael H. Hart seorang ahli astronomi dan sejarah terkenal di Amerika Serikat mengakui dalam bukunya “The 100” bahwa Nabi Muhammad menempati urutan teratas dari 100 daftar nama orang yang paling berpengaruh di dunia. Lebih lanjut ia mengatakan, Nabi Muhammad seorang yang paling berpengaruh di antara semua penduduk dunia, karena beliau satu-satunya manusia yang berhasil secara luar biasa baik dalam kegiatan keagamaan maupun pemerintahan.

Rasulullah saw juga termasuk seorang yang sangat dermawan, sebagaimana terungkap dalam hadis: “Umar bin Khatab berkata, suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah untuk meminta-minta, Rasul memberinya. Besok dia kembali lagi untuk meminta-minta, Rasul juga memberinya. Besoknya meminta lagi, Rasul tetap memberinya. Besoknya juga meminta lagi, Rasul bersabda: Saya tidak mempunyai apa-apa saat ini, tapi ambillah apa yang kamu mau dan jadikan sebagai utang saya, kelak saya akan membayarnya.” (HR. Tarmidzi).

Dalam lanjutan hadis tersebut Umar ra mengingatkan Rasulullah saw: “Umar berkata: Wahai Rasul, jangan berikan sesuatu yang berada di luar batas kemampuanmu. Beliau tersenyum dan bersabda: karena itulah saya diperintah oleh Allah.” Demikian sikap kedermawanan Rasulullah sampa-sampai hemat penulis tidak ada catatan yang menyebutkan beliau berzakat sepanjang hayat. Bukan karena beliau miskin tak berharta, namun tidak pernah beliau menumpuk harta sampai mencapai nisab zakat. Jika di sisi beliau ada secuil harta, langsung mendermakannya.

Ummu Salamah mengisahkan, suatu hari Nabi masuk ke rumahku dalam keadaan muka pucat, saya khawatir mungkin beliau lagi sakit. Lalu bertanya, Ya Rasulullah, mengapa wajahmu pucat begitu, apakah anda sakit? Jawab beliau: Saya tidak sakit, tetapi saya ingat uang tujuh dinar yang kita dapatkan kemarin. Sore ini uang itu masih ada di bawah kasur dan belum diinfakkan. Satu hal membuat Rasulullah takut dengan harta, ketika ajal menjemput, namun masih ada harta yang ditinggalkan.

 Kedermawanan Rasulullah

Kedermawanan beliau lebih meningkat tajam ketika Ramadhan, seperti diceritakan Ibnu Abbas. Digambarkan dalam riwayat Imam Bukhari, di bulan Ramadhan kedermawanan Rasul laksana angin yang berhembus, tidak pernah berhenti dan senantiasa memberikan kedamaian, kenyamanan dan kenikmatan bagi yang menerimanya. Paling tidak Ada enam rahasia kedermawanan beliau di bulan Ramadhan:

Pertama, syaraf az-zaman (waktu mulia), Allah melipat gandakan pahala ibadah sebab kemulian waktu, yakni bulan Ramadhan. Di antara dua belas bulan, hanya Ramadhan yang sangat jelas penjelasannya dalam Alquran, bahkan Allah menurunkan Alquran di bulan Ramadhan. Ini semua karena amal baik apapun akan digandakan, baik zakat, infak, sedekah dan sebagainya jika dilakukan di bulan Ramadhan. “Rasulullah saw pernah ditanya, sedekah apa yang paling utama, Rasul menjawab, Sedekah di bulan Ramadhan,” (HR. Turmidzi).

Kedua, membantu orang berpuasa adalah jembatan mendekatkan diri pada Allah. Bersabda Nabi saw: “Siapa yang memberikan makanan berbuka bagi orang berpuasa, maka fahalanya sama dengan orang puasa itu, tanpa berkurang sedikit pun.” (HR. Ahmad). Di sisi Allah orang berpuasa sangat mulia, bau mulutnya semerbak laksana kesturi, tidurnya berbobot ibadah, doanya mustajab. Maka sangat wajar jika mendermakan kepada mereka sebatas apa yang kita miliki, sehingga ketaatan dan ibadah mereka makin meningkat, ketika hal itu dilakukan, maka kita akan mendapatkan imbas dari amal mereka.

Ketiga, Ramadhan adalah bulan dimana Allah sangat dermawan pada hamba-Nya. Momen Ramadhan Allah jadi panggung rahmat, maghfirah (ampunan) dan terbebas dari api neraka, terlebih malam sejuta penantian, yakni Lailtur Qadar. Jika hamba bersikap dermawan, Allah pun akan lebih dermawan lagi pada hamba, dengan harta yang dikeluarkan akan diganti berlipat ganda, tenaga dan pikiran yang terkuras diganti dengan lebih baik, rezeki bertambah, memperoleh keturunan dan sejahtera dalam rumah tangga. Berkata Rasul: “Allah akan lebih kasih sayang pada hamba-Nya yang juga penyayang pada sesama.” (HR. Bukhari).

Keempat, penyatuan amalan puasa dan sedekah dalam waktu bersamaan merupakan perantara penting meraih syurga. “Bersabda Nabi, surga itu ada beberapa kamar, di mana bagian dalamnya nampak dari luar dan luarnya nampak dari dalam. Sahabat bertanya: untuk siapa kamar tersebut ya Rasul? Rasul menjawab: bagi mereka yang selalu bertutur kata dengan baik, memberi makan fakir miskin, melanggengkan puasa dan shalat malam ketika orang tidur.” (HR. Ahmad). Allah Swt telah memberi kesempatan emas bagi hamba untuk mendapat tiket kamar tersebut, yakni amalan Ramadhan.

Kelima, puasa dan sedekah dapat menjauhkan pelakunya dari neraka. Sebuah hadist menyebutkan, puasa merupakan temeng dari api neraka, demikian juga dengan sedekah, adalah penolak dari panasnya api neraka. Abu Darda’ pernah berkata, shalatlah dua rakaat di malam gelap gulita, untuk menangkal panasnya di padang mahsyar, dan bersedekahlah dengan apa saja, untuk menahan jerih payah kelak di hari pembalasan.

Keenam, selama beribadah puasa, kekurangan, kehilafan, marah dan sebagainya tidak dapat dipungkiri. Kekuatan sedekah dapat menempel bolong-bolong dari kekurangan tersebut. Karenanya, membayar zakat fitrah sebelum 1 Syawal (akhir Ramadhan) adalah perintah penting dalam Islam, dengan tujuan menutupi kekurangan dalam berpuasa. Nabi telah mencontohkan amalan baiknya di bulan Ramadhan. Oleh karena itu jangan lepas genggaman Ramadhan sebelum kita dapat melakukan amalan yang dicontohkan Nabi, jangan pernah takut dengan bersedekah harta akan berkurang, karena janji Allah dan RasulNya itu benar.

 Gaza bergejolak

Hari ini, media cetak dan online dihiasi dengan kondisi Gaza yang terus bergejolak, menampar jutaan tokoh di dunia yang masih saja sibuk berebut mahkota tahta, harta dan wanita. Tiga lokasi ‘permata dunia’ tak dipedulikan oleh kaum pecinta materi, terbiasa mengumbar obrolan tentang kemewahan kendaraan, berbelanja benda dengan merk ternama, atau berwisata tanpa tujuan taqarrub Ilallah. Gaza, Syria, dan Mesir. Tiga lokasi yang pemberitaannya dipecah-pecah dengan bumbu fitnah sana-sini supaya ummat tetap terkota-kotak dan lupa pada identitas diri sebagai satu keluarga.
Seiring dengan ragam rasa geram, gelisah dan merinding bagi jiwa raga kita atas segala berita dari bumi para syuhada, Palestina. Muslim Palestina sedang di dibantai, ratusan nyawa sudah melayang, berpuluh bangunan roboh akibat kekejaman tentara zionis Israel. Di Indonesia kita masih dapat sedikt tersenyum, mau kemana saja tak ada problem, asupan makanan pun terpenuhi, dan tempat berteduh berdiri kokoh megah bak istana. Tapi bagaimana dengan saudara kita di Palestina?

Ramadhan yang sejati menjadi peluang emas disela-sela usia mereka untuk berta’bud ke pada Allah, tapi malah ancaman hidup yang mereka rasakan. Rumah mereka hancur lebur diserang keganasan Yahudi, mereka haus dan dahaga, mereka butuh simpatisan dari umat Islam dunia untuk mempertahankan Masjidil Al-Aqsha sebagai simbol kesucian umat Islam.
Berbagai elemen masyarakat di dunia khususnya di Aceh kini sedang giat mengumpul dana bantuan untuk Palestina. Mumpung Ramadhan belum berlalu, mari kita sisihkan sedikit harta yang kita miliki, untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita muslim Palestina yang saat ini menangis darah. Semoga!

sumber : aceh.tribunnews.com/2014/07/18/ramadhan-momentum-membantu-palestina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar