Jadi dirimu sendiri, agar ketika seseorang mencintai, kamu tak perlu takut jika dia akan temukan dirimu bukan orang yang ingin dia cintai.
bolak balik
Jumat, 09 September 2016
Menebar Ilmu Di Tanah Simalugun
Langit dibelenggu gumpalan kelabu, memayungi lengkungan kubah yang menaungi sebuah bangunan, di bawahnya berdiri pilar-pilar besar sebagai penyangga. Sang induk bangunan, yang biasanya digunakan sebagai tempat ibadah itu terlihat sepi. Para penghuninya kini disibukkan dengan kegiatan rutin yaitu belajar, untuk menambah ilmu dunia sebagai bekal di akhirat kelak. Tempat mereka disini, di Pesantren Modern Al-Barokah Pematang Siantar, dan mereka biasa disebut santri.
Nyaris dikatakan sore, kaki kami menapaki jalan berbalut batako berlanjut lantai marmer putih yang tidak terlalu mengkilap. Tubuh kami dibawa ke salah satu ruangan yang dianggap sakral bagi para penghuni disini; ruang makan. Sepi bagaikan tanpa penghuni, hanya ada kami bertujuh di ruang makan. Di dalamnya, bertengger sebuah meja bundar yang di atasnya terdapat lapisan kaca yang bisa diputar.
Tidak lama acara makan siang kami berlangsung, sementara jam terus berjalan seolah-olah mengejar kami untuk segera bergegas. Belum genap kaki kami melewati batas pintu, suara azan menelusup indra pendengaran. Berdasarkan kesepakatan, usai diantar menuju mess dan melaksanakan Salat Ashar, kegiatan akan dimulai, air di muka kami mendadak sumringah setelah empat jam berkutat dengan jendela bus sembari memandangi jalanan.
Perjalanan kali ini merupakan salah satu program kerja LPM Dinamika UIN SU, yaitu Kelas Jurnalistik. Usai melaksanakan kewajiban, kami bergegas menuju Aula. Materi pertama disampaikan oleh Juraidah Nasution. Detail ia jelaskan bagaimana cara pengambilan foto jurnalistik. Peserta yang sepenuhnya adalah para santri, mereka mendengarkan dengan cermat, antusias ketika bertanya dan mengaplikasikannya dengan baik ketika simulasi.
Udara di penghujung agustus sore itu sejuk, ditambah lagi letak pesantren berada di perbukitan. Ketika menjelang maghrib, pelatihan untuk materi pertama pun berakhir. Para santri dengan lihainya berlari menuju masjid, mereka sumringah dengan datangnya maghrib terlebih ketika dikumandangkannya azan. Kami kembali ke mess, perempuan dan laki-laki messnya terpisah.
Lagi-lagi makan malam kami dipersiapkan, hanya tinggal melahap setelah itu kembali ke Aula, melanjutkan materi kedua. Motivasi Menulis merupakan judul kedua dari rangkaian agenda Kelas Jurnalistik, diisi oleh Pemimpin Umum Gigih Suroso. Semangat mereka terlihat lebih membara, ada yang dengan antusiasnya menulis di buku catatan. Usai pemaparan, peserta diberi kesempatan memasuki laboratorium komputer, menuliskan sebuah artikel yang akan mereka kembangkan tiap-tiap outlinenya. “Buat outline, caranya menggunakan kalimat tanya. Setelah kalian menulis list pertanyaannya, jawab dan kembangkan pertanyaan tersebut,” papar Gigih Suroso.
Gelap yang sedari tadi menyelimuti, jarum jam yang terus berputar dan materi kedua kami berakhir malam ini tepat pukul 22.00 WIB. Persiapan untuk besok pagi tentunya membutuhkan tenaga, untuk itu kami perlu istirahat. Peserta izin kembali ke asrama terlebih dahulu.
Setelah fajar menyambut, kami buru-buru melangkah ke kamar mandi secara bergantian. Di luar mess, kru laki-laki sudah siap menunggu kami untuk sarapan. Enak memang, tinggal di dalam mess yang lumayan luas untuk anak perantauan dan diselimuti dinginnya Air Conditioner. Sarapan kami tidak terlalu santai, kami dikejar waktu dan harus segera menyelesaikan tiga materi lagi hari ini.
Materi wawancara dan menulis straight news dipaparkan oleh Firda Adinda Syukri. Beberapa peserta kemudian diberi kesempatan untuk mempraktekkan wawancara. Setelah itu pemateri mengomentari dengan maksud untuk memperbaiki cara mereka wawancara. Usai praktek wawancara, peserta diajak untuk menulis berita straight news.
Pukul 13.00-15.00 WIB, Fakhrurrazi menyampaikan materinya mengenai videografi dan editing. Pemaparan yang berlangsung selama dua jam tersebut dilanjutkan dengan simulasi dipandu oleh beberapa kru sampai pukul 17.00 WIB. Setelah itu proses editing dihabiskan peserta sampai maghrib. Usai isya, pelatihan dilanjutkan dengan materi Dasar Corel Draw oleh Enggar Tyas Untari dan In Design yang dipaparkan oleh Rizka Rahma Fajri.
Langit masih gelap. Kami bergegas dari mess dan menunggu di sisi kanan masjid, tepat di depan mess perempuan. Sebuah mobil van melaju dari arah tanjakan dan berhenti tepat di depan kami menunggu. Pagi itu, kami meninggalkan Pesantren Modern Al-Barokah. Dengan tempo sedang, mobil melaju melewati gerbang besi yang menjulang di pintu masuk.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar